Membangun Masjid dari sesuatu yang Haram

Sebagai hamba yang beriman tentunya akan semangat dalam melakukan apa saja demi mencapai pahala dan ridlo Allah SWT. Agama Islam menyediakan banyak peluang bagi setiap muslim dalam melakukan ibadah. Sehingga saking luasnya kesempatan yang diberikan kepada hamba yang akan memperoleh banyak pahala, ibadah saja dalam aturan Islam dibagi dalam berbagai macam. Uniknya adalah betapa besar pengorbanan dalam melakukan ibadah tersebut ataupun tanpa membutuhkan pengorbanan yang besar sekalipun nilai ibadah itu sangat bergantung pada kaikhlasan niat, tujuan yang baik, dan dilakukan dengan penuh kekhusyuan. Sehebat apapun karya ibadah yang dibangun seseorang, jika tidak ada unsur penghambaan kepada Allah SWT, maka nilai keikhlasannya dipertanyakan. Dalam hal ini tentu banyak kemungkinan prediksi yang mungkin muncul, terutama menurut nalar fisik manusia di saat memperhatikan seseorang yang mengeluarkan banyak harta dengan motif ibadah, membangunan sarana ibadah, sosial, maupun membagikan santuan. Akan tetapi tujuannya “wallohu a’lam” terkadang hanya mencari sensasi, motif politik dan popularitas.

Ibadah, sesuai dengan makna asalnya adalah suatu pekerjaan yang dilakukan atas dasar pehambaan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT guna meraih ridlo-Nya. Dalam praktek pelaksanaannya tidak sembarangan asal melakukan. Islam mengatur tata cara ibadah yang sesuai dengan tuntutan syari’at. Hal ini diatur dalam sebuah ilmu khusus yang disebut ilmu fiqih. Lapangan fiqih dibagi menjadi beberapa bagian, meliputi fiqih ibadah, fiqih muamalah, fiqih jinayah, fiqih mawaris, dan sebagainya. Di samping aturan tentang fiqih juga ada aturan yang berfungsi untuk mengatur hubungan baik dengan sesama yang diatur dalam ilmu akhlak. Ada ilmu yang mengatur tentang keyakinan dan ketaguhan hati yang diatur dalam ilmu aqidah dan banyak ilmu yang lainnya dalam menunjang seorang hamba dalam meraih sukses dunia dan akhirat.

Mengingat bahwa segala tata kehidupan umat Islam diatur sedemiakian rupa, maka persoalan apapun yang dihadapi baik menyangkut kepentingan pribadi maupun umum haruslah mengacu pada tatanan rambu-rambu yang sudah digariskan dalam aturan syara’. Aturan syara’ ini termaktub dalam sumber hukum Islam, yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai sumber pokok. Selain sumber pokok diatur pula sumber hukum lainnya seperti ijma dan qiyas. Dengan demikian segala sesuatu baik yang menyangkut kepentingan agama, masyarakat, maupun kenegaraan dilakukan menurut undang-undang yang telah disepakati oleh para ulama. Kalaupun tidak ditemukan aturan yang menegaskan terhadap sebuah masalah, tentunya harus melalui kesepakatan para ulama, fatwa atau hasil analogi (qiyas). Jadi, sesuatu perbuatan yang belum jelas kepastian hukumnya jangan dulu dilakukan sebelum mendapata rekomendasi hukum yang pasti. Jika tidak, bisa jadi perbuatan yang dilakukannya itu akan termasuk pada perbuatan dosa. Akan lebih berat dosa itu jika dilakukan secara kolektif atau mengajak orang banyak.

Selain mendapat rekomendasi hukum yang pasti dari aturan agama Islam, baru pekerjaan itu dengan penuh keyakinan dapat dilakukan. Namun demikin unsur utama dari setiap amal perbuatan yaitu ikhlas. Sebagaimana firmna Allah :

Artinya :

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (QS. Al-Bayyinah : 5)

Dalam ayat di atas dijelaskan yang dimaksud dengan kata “hanif” artinya Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan. Sedangkan kata “mukhlish” sebuah bentuk kalimat yang menunjukan pada bentuk isim fa’il yang berarti orang-orang yang ikhlas. Dalam terjemahan ayat ini ikhlas diartikan sebagai memurnikan ketaatan kepada Allah SWT.

A. Keutamaan Membangun Masjid

Masjid yang dimaklumi oleh semua umat manusia baik yang muslim ataupun non-muslim adalah merupakan tempat suci untuk melakukan ibadah bagi umat muslim. Bahkan keberadaan masjid dalam suatu wilayah atau kampung merupakan jati dari bahwa perkampungan tersebut merupakan komunitas muslim. Masjid dibangun oleh kaum muslimin merupakan rangkaian dari adanya perintah wajib melaksanakan shalat secara berjamaah. Oleh karena perintah tersebuh hukumnya wajib, maka hukum mendirikan masjid pun menjadi wajib. Karena dalam kaidah ushul fiqih dikatakan :

مالايتــم الـواجب الا به فهــو واجب

Artinya :

Sesuatu yang dapat menyempurnakan suatu kewajiban maka hukumnya wajib

Dalil hukum ini dikuatkan dengan pesan Allah dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang menerangkan betapa pentingnya masjid itu dibangun. Lebih jauh Allah menuntut agar bukan sekadar membangun saja melainkan harus memelihara dan memakmurkannya. Di antara dalil Al-Qur’an yang berhubungan dengan keutamaan masjid adalah :

  1. Orang yang memakmurkan masjid merupakan identitas seseorang yang memiliki predikat beriman.

Artinya :

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At-Taubah : 18)

  1. Orang-orang yang mendapat pancaran nur Ilahi adalah orang-orang yang berzikir kepada Allah di masjid.

Artinya :

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang (QS. An-Nur : 36)

  1. Ancaman bagi orang yang berusaha meursak masjid atau berusaha menghalang-halangi orang yang akan beribadah.

Artinya :

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (QS. Al-Baqarah : 114)

  1. Masjid-masjid itu diklaim sebagai kepunyaan Allah SWT.

Artinya :

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin : 18)

  1. Sebagai etika menghormati masjid, setiap muslim dianjurkan memakai pakaian yang indah-indah.

Artinya :

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid (QS. Al-A’raf : 31)

  1. Dalam beberapa hadis banyak diterangkan tentang jaminan bagi orang yang membangunan masjid, yakni surga.

Mengingat beberapa dalil yang menyangkut tentang keutamaan masjid dan bagaimana seorang muslim dituntut untuk memakmurkan, memanfaatkan fungsi masjid sesuai tuntutan agama Islam. Dalam hal ini tentu apabila dihubungan dengan salah satu hadits Nabi yang menerangkan tentang beberapa tanda-tanda kiamat adalah di anataranya adalah di mana banyak masjid yang dibangun dengan arsitektur sangat megah, akan tetapi justru sepi dari aktifitas zikir kepada Allah SWT. Sungguh sangat ironis jika kayakinan muslim begitu mendalam tentang betapa besar pahala bagi orang yang membangun masjid. Sehingga sekuat tenaga orang-orang bergotong royong, mencari dana, mengorbankan harta, tenaga dan pikiran guna mewujudkan sebuah bangunan masjid yang megah, sekaligus sebagai lambang kebanggaan masyarakat muslim di suatu tempat. Akan tetapi pada saat harus mengisi masjid tersebut dengan berbagai bentuk aktifitas ibadah, justru saling mengandalkan, saling menuding, dan saling melempar tanggung jawab.

Gejala ini dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam menyelami kualitas ibadah seseorang secara keseluruhan. Bahwa pada saat setiap hamba melakukan rutinitas keagamaan dengan cara simbolisme, tentu belum cukup jika orang itu dinilai sebagai orang yang sempurna ibadahnya. Mengingat bahwa penilaian Allah terhadap ibadah seseorang lebih kepada kuntinuitasnya, di samping kuantitas dan kualitasnya juga penting. Sebgaimana firman Allah :

Artinya :

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (QS. Al-Ahqaf : 13)

Dalam bahasa Al-Qur’an ibadah yang kuntinu itu disebut istiqamah. Di mana dalam ayat di atas dituntut bahwa kalimat iman seseorang harus ditindak-lanjuti dengan karya nyata atau amal yang istiqamah, langgeng dan melahirkan pembiasaan.

Belakangan ini banyak di antara saudara-saudara kita kaum muslimin yang berusaha untuk mendirikan masjid atau sarana ibadah lainnya dengan melakukan berbagai cara. Biasanya diawali dari musyawarah untuk menentukan langkah pembangunan atau rehabilitasi masjid. Lalu dibentuk kepanitiaan dan menghitung-hitung alokasi biaya yang dibutuhkan. Setelah semua menyepakati akan rencana yang mereka buat, biasanya langkah mereka terhambat pada masalah ruang gerak seksi usaha dan dana. Biasanya masyarakat yang ada dilingkungan sekitar masjid dijatah untuk membayar iuran. Dari hasil panarikan iuran tersebut dikelola seadanya, maka akhirnya pembangunan masjid baru tahap pondasi sudah terbengkalai.

Kemudian langkah apa yang mereka lakukan untuk menyelesaikan pembangunan masjid tersebut. Dalah hal ini beragam cara ditempuh, di antaranya menyebar proposal ke berbagai instansi baik pemerintah, maupun pengusaha. Hingga upaya donasi ke rumah-rumah secara door to door keliling kampung, sampai memungut rupiah di jalanan.

B. Faktor-faktor yang Menyebabkan Sulitnya Mencari Dana untuk Membangun Masjid

Harapan masyarakat untuk mendapat kucuran dana guna membangun masjid adalah pemerintah, baik pemerintah pusat mapun pemerintah daerah. Namun demikian alokasi dana untuk sarana iabdah dan sarana sosial yang tersedia jumlahnya sangat kecil. Maka akhirnya proposal masjid yang dikirim oleh berbagai panitia ke Pemda misalnya, sangatlah menumpuk. Sebagai ilustrasi, bahwa alokasi anggaran untuk membantu pembangunan setiap masjid dari Pemda Ciamis maksimal Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah). Sementara kebutuhan dana seluruhnya untuk membangun sebuah masjid itu mencapai ratusan juta rupiah.

Faktor lain yang menyebabkan sulitnya menggalang dana untuk pembangunan masjid adalah bahwa umumnya masyarakat muslim memiliki proyek yang sama di daerahnya masing-masing. Hal ini mungkin salah satu trik terbaik guna menghilangkan syak wasangka atau su-u dhann kepada setiap muslim. Di samping itu dana yang didapat dari masyarakat umumnya uang recehan, berkisar rata-rata senilai Rp 1.000,00 (seribu rupiah). Untuk jaman sekarang uang seniali tersebut merupakan harga yang cukup “nge-TREND” di masyarakat ketika harus merogoh sakunya guna menyumbang atau berderma. Kira-kira nilainya sama dengan tarif retribusi parkir atau tarif buang air di WC umum. Sementara har-harga bahan bangunan dan upah kerja ahli bangunan semakin tidak terjangkau oleh kabanyakan kalangan masyarakat. Dengan demikian, setiap kali petugas pencari dana bergerak, maka hasil yang didapat cukup hanya untuk biaya operasional atau upah pungut saja. Akhirnya “hanca” pembangunan masjid tetap saja terbengkalai.

Kondisi ekonomi bangsa sejak krisis ekonomi tahun 1998 silam belum menunjukkan tanda-tanda pulih dan normal kembali. Meskipun angka pertumbuhan ekonomi secara agregat menunjukan rasio kenaikan dari tahun-tahun, namun persoalan krisis daya beli masyarakat dari kalangan kelas menengah ke bawah dirasakan semakin mendera. Belum lagi terimbas dengan krisis global yang eksesnya sangat dirasakan oleh bangsa Indonesia. Keadaan seperti inilah akhirnya dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Nasional Perkapita bangsa Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi sehari-hari masyarakat. Belum termasuk alokasi biaya pendidikan, kesehatan dan lainnya. Oleh karena itu, setiap penerimaan masyarakat dari hasil peras keringat dan usaha lainnya dalam setiap bulannya jangankan untuk alokasi menabung (saving) bahkan untuk konsumsi kebutuhan primer saja menanti subsidi dari pemerintah. Barangkali apabila pendapatan mastarakat sudah meningkat atau sudah memiliki kelebihan dan nilai konsumsi, maka kelebihan tersebut tentu akan disalurkan untuk kepentingan keagamaan atau sosial lainnya.

Rehabilitasi atau pembangunan masjid yang dirancang oleh masyarakat, rata-rata menghendaki bentuk bangunan yang megah, lengkap dengan ornamen dan arsitektur mewah. Hal ini sudah menjadi trend di kalangan umat Islam. Sebagai harapan bahwa jika bangunan masjid dirancang dengan megah, tentu akan menarik minat kaum muslimin untuk lebih sering dan rajin datang ke masjid. Meskipun kenyataannya tidaklah demikian.

  1. C. Hukum Mendanai Pembangunan Masjid dari Hasil Penjualan Barang Haram

Setelah berbagai upaya dilakukan guna mendapatkan dana untuk menyelesaikan pembangunan sebuah masjid dirasa tidak mendapatkan hasil yang signifikan, maka upaya lain yang siftanya “nyerempet-nyerempet” kegiatan yang tidak relevan dengan nilai ibadah seperti : turnamen, lomba-lomba, konser, hiburan, dan lain-lain mau tidak mau mulai dilaksanakan. Hal ini memang hasilnya cukup menggiurkan dan dapat mendongkrak lajunya sebuah pembangunan proyek. Akan tetapi yang namanya hiburan, orang-orang dan juga terutama panitia jika dirasakan mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan, maka tuntutannya adalah “ketagihan” lalu dilaksanakan lagi dan lagi.

Sebenarnya ada beberapa usaha yang mudah dilakukan dan dapat mengumpulkan uang banyak dalam waktu yang relatif cepat, yaitu menjual barang haram; termasuk di dalamnya menjual NARKOBA. Atau menjajakan PSK, hasilnya bisa mencapai ratusan juta bahkan milyaran dalam sehari. Pokoknya hampir setiap usaha yang diharamkan hasilnya sangat menggiurkan.

Sebagai panitia pembangunan masjid tentunya TIDAK akan pernah melakukan usaha yang dilarang agama, maupun pemerintah guna menyelesaikan pembangunan sebuah masjid. Akan tetapi dalam mobilitas pegolakan ekonomi masyarakat yang dilatar-belakangi berbagai motivasi, tentu dalam hal ini tidak menutup kemungkinan akan datang sebuah tawaran dana yang cukup menggiurkan kepada panitia pembangunan masjid guna menuntaskan pembangunan yang terbengkalai tersebut. Dalam menanggapi tawaran dana tersebut selaku panitia minimal akan terbagi tiga kelompok. Kelompok pertama, akan menerima dengan spontan dana tersebut tanpa mempertimbangkan dari hasil apa dana itu diperoleh. Kelompok kedua, akan mempertimbangakan penerimaan/menerima sebagian dana tersebut setelah mereka tahu asal usul dana itu diperoleh. Kelompok ketiga, akan menolak secara mutlak dana tersebut karena mereka tahu asal-usul dana tersebut.

Bagaimana sikap penulis dalam menanggapi permasalahan ini ?

Pertama, hukum memperjual-belikan barang yang diharmkan adalah haram. Landasan hukumnya adalah Hadits Nabi SAW.

عـن جابر قال رســول الله صـلى الله عليــــــه وســـلم : ان الله ورســوله

حــرم عــن بيع الخمــر والميتة والخنزير والاصنـــام (متفق عــليـــه)

Artinya :

Dari Jabir r.a. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya mengharamkan memperjual-belikan khomr (NARKOBA), bangkai, babi, dan berhala” (HR. Mutafaq ‘alaih)

Karena hukum jual beli barang haram itu diharamkan, maka uang hasil jual beli tesebut otomatis haram, tidak boleh dipergunakan untuk belanja apapun baik untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

Akan tetapi muncul suatu asumsi yang mengatakan bahwa panitia pembangunan masjid itu hanya menerima dalam bentuk uang. Sedangkan yang melakukan perdagangan itu orang lain, jadi tidak ikut langsung melakukan perbuatan dosa. Jadi yang menanggung dosa itu adalah orang yang melakukannya.

Dalam hal ini muncul suatu etika dan kewajiban setiap kita untuk bedakwah, sekaligus menhindari datangnya ‘azab Allah yang amat pedih. Di mana ‘azab tersebut datang tanpa pandang bulu. Sebagaimana firman Allah :

Artinya :

Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (QS. Al-Anfal : 25)

Kedua, penulis akan menolak secara mutlak dana pembangunan masjid yang berasal dari hasil jual beli barang yang diharamkan. Alasannya adalah iltibas artinya mencampur-adukan antara yang hak dengan yang bathil. Dan tentu perbuatan ini sangat dimurkai oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya :

Artinya :

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui (QS. Al Baqarah : 42)

Ketiga, jika hal itu dilakukan dengan adanya kelonggaran menerima dana dari mana saja tanpa mau tahu dari mana sumbernya. Maka akan terjadi pelecehan terhadap sarana ibadah yang selama ini disucikan oleh umat Islam. Bahkan Allah SWT telah mengklaim bahwa seluruh masjid itu milik-Nya (QS. Al-Jin : 18)

  1. D. Penutup

Masjid adalah tempat suci dan disucikan, setiap muslim yang hendak memasuki masjid terikat dengan tata krama dan aturan-aturan yang harus dijalankan. Misalnya aturan melangkahkan kaki masuk majid atau keluar masjid. Doa masuk dan keluar masjid, shalat sunnat tahiyatul masjid, niat dan pelaksanaan i’tikaf, serta menjaga perbuatan-perbuatan yang bersifat senda gurau atau di luar tujuan ibadah selama berada di masjid. Oleh karena itu membangun masjid selain dengan tujuan menggapai ridlo Allah SWT juga sebagai sarana menguji kualitas kesetiaan iman seorang muslim pada saat dituntut untuk mengorbankan hartanya untuk pembangunan masjid.

Wassalam.

0 Responses to “Membangun Masjid dari sesuatu yang Haram”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ngémutan Tanggal

April 2010
S S R K J S M
    Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Kontributor


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: